Jumat, 11 November 2016

GERAI DINAR PALEMBANG



Gerai Dinar Palembang merupakan agen penjualan dinar di Palembang
Attn : Hengki Irawan/Dian Oktaria
Alamat : Jalan Sultan M. Mansyur No. 889 / 327 Bukit Lama Palembang
Telpon : 0711 441553 / 085273437154 / 085383853521
Email : hengkiirawan2001@yahoo.com / hengkiirawan2001@gmail.com /antaria1910@yahoo.co.id
http://www.geraidinar.com/


Currency Risk, More Then Earthquake Risk !

Saat ini kita menggunakan Rupiah, Dollar, Euro, Riyal dlsb. dan mengira itulah uang. Apa yang kita kenal sebagai uang ini sesungguhnya hanyalah currency atau alat tukar sesaat. Untuk menjadi uang yang sesungguhnya, sesuatu itu harus bisa memerankan tiga hal sekaligus yaitu medium of exchange, unit of account dan store of value. Rupiah, Dollar, Euro dlsb, tidak bisa memerankan ketiga fungsi tersebut karena nilainya terus menyusut. Sesuatu yang menyusut tidak bisa menjadi unit of account, apalagi store of value. Jadi apa yang bisa berperan menjadi uang yang sesungguhnya ?

Bahkan sebagai medium of exchange-pun currency manapun perlu terus diwaspadai karena selalu ada resiko sewaktu-waktu nilainya berubah total, dan ini bisa saja terjadi secara global atau yang dikenal sebagai global currency reset.

Dalam sejarah uang misalnya, berapa lama sih usia Rupiah, Dollar, Deutsche Mark-nya Jerman ? Rupiah keberadaannya kurang lebih seusia republic ini, itupun Rupiah tahun 50-60-an jelas sangat berbeda dengan Rupiah sekarang – karena tahun 1965-1966 rupiah di-reset nilainya dengan menghilangkan tiga angka nol atau saat itu dikenal dengan sanering.

Negeri adidaya teknologi seperti Jerman-pun uangnya terus berubah sejak Perang Dunia 1, Weimer Republic dan Perang Dunia II. Dan uang kebanggaan mereka Deutsche Mark-pun akhirnya berakhir dengan berlakunya Euro sekitar 15 tahun lalu.

Dollar yang perkasa hingga kini keberadaannya baru sekitar seratus tahun dan daya belinya-pun terus berubah. Dollar sekarang jelas berbeda dengan Dollar sebelum 1971 ketika Dollar mulai dilepas dari ikatannya terhadap emas.

Walhasil uang yang kita kenal adalah currency – yang hanya berlaku selama periode tertentu – dan sewaktu-waktu bisa mengalami perubahan, baik yang sifatnya gradual melalui inflasi, maupun yang sifatnya mendadak seperti devaluasi, sanering atau yang lagi ramai dibicarakan secara global sekarang adalah apa yang disebut global currency reset – yaitu resiko dadakan bila sejumlah negara tiba-tiba harus menurunkan atau mengubah daya beli uangnya.

Apa resiko yang bisa menimpa kita bila ini terjadi ? Di negeri ini setidaknya kita sudah pernah mengalaminya dua kali. Yaitu ketika terjadi sanering 1965/1966 dan ketika daya beli uang kita turun tinggal ¼-nya terhadap Dollar dan mata uang kuta lainnya pada krisis moneter 1997/1998.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa resiko currency reset secara global memang ada, dan resikonya bahkan lebih besar dari resiko gempa bumi baik dari sisi severity maupun dari sisi frequency-nya.

Di ilmu saya yang lama – ketika saya membuat produk asuransi gempa bumi – misalnya. Produk ini sangat laris dan hampir semua gedung bertingkat di Jakarta dan kota-kota besar pasti membelinya. Bisa karena kesadaran sendiri, atau karena diharuskan oleh bank yang membiayai gedung-gedung tersebut – yang semuanya takut akan resiko gempa bumi.

Bagaimana industri asuransi menyiapkan proteksi-nya agar bila terjadi sesuatu yang sangat besar mereka tetap bisa membayarnya ? Mereka bekerjasama dengan berbagai industri asuransi dan reasuransi dalam dan luar negeri untuk menyediakan proteksi dengan nilai yang diperkirakan cukup. Berapa nilai yang dianggap cukup itu ?

Mereka membuat skenario berdasarkan frequency – kemungkinan terjadinya suatu resiko, dan berdasarkan severity – tingkat kerusakan bila resiko itu bener-bener terjadi. Frequency yang diambil biasanya atas gempa bumi dalam siklus tertentu seperti siklus 100 tahunan dst. Sedangkan severity, biasanya diambil dalam persentase kerusakan tertentu misalnya 15 % -30 %.

Semakin tinggi frequency (semakin dekat dari satu kejadian ke kejadian lainnya) dan semakin tinggi severity – akan melonjakkan biaya asuransi atau yang dikenal sebagai premi.

Nah sekarang dengan teori resiko tersebut, bagaimana kalau kita terapkan terhadap resiko yang kita hadapi berupa currency reset, devaluasi, sanering atau apapun namanya ? Dalam 50 tahun terakhir kita mengalami dua kali kejadian yaitu sanering 1965/1966 dan krismon 1997/1998. Artinya frequency rata-rata kita sekitar 25 tahun-an  atau jauh lebih cepat dari frequency gempa bumi yang digunakan dasar perhitungan di industri asuransi !

Dari sisi severity, tidak terhitung kerugian kita ketika uang Rp 1,000 kita menjadi uang Rp 1,- seperti tahun 1965/1966. Yang lebih mudah dihitung adalah ketika property gedung-gedung di Jakarta dan di Indonesia pada umumnya, nilainya dalam Dollar turun menjadi sekitar ¼-nya pada tahun 1997/1998. Artinya kerugian dalam Dollar yang dialami para pemilik gedung tersebut adalah 75% saat itu ! lagi-lagi jauh lebih tinggi dari PML (Possible Maximum Loss)-nya gempa bumi dasyat yang diperkirakan di kisaran 15% - 30 % tingkat kerusakan !

Gedung-gedung tersebut memang akhirnya masih exist tegak berdiri, tetapi pemilik gedung atau pemilik usahanya bahkan telah begitu banyak yang pindah ke tangan-tangan asing yang uangnya tidak ter-devaluasi seperti yang kita alami tahun 1997/1998.

Para pemilik gedung atau bangunan bisa membeli produk asuransi untuk memproteksi resiko gempa bumi. Tetapi apakah mereka bisa memproteksi terhadap resiko yang lebih dasyat dari gempa bumi tersebut ?

Ternyata mayoritas kita tidak aware masalah resiko yang sangat besar berupa potensi hilangnya daya beli kita sewaktu-waktu ini. Padahal bila mengambil frequency resiko kita yang berulang di kisaran angka 25 tahun tersebut, kini kita sudah berjalan mendekati  20 tahun sejak 1997  - artinya resiko besar itu bisa saja mengancam kita dalam kisaran lima tahun lagi !

So what ? what we can do ? beli asuransi ? – tidak ada yang mampu menyediakan proteksi untuk currency risk ini. Tetapi Alhamdulillah kita diberi solusi olehNya langsung.


5 Silver Dirham, available at this site now.
Yaitu uang kita namanya disebutkan di Al-Qur’an yaitu Dinar emas di surat Ali Imron ayat 75,  dan Dirham perak yang disebut di dua ayat yaitu di Surat Yusuf ayat 20 dan tepat di tengah-tengah Al-Qur’an di surat Al-Kahfi ayat 19. Tidak hanya emas dan perak, uang kita bisa berupa benda-benda riil yang kita butuhkan sehari-hari. Perhatikan hadits berikut :

Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, beras gandum dengan beras gandum, kurma dengan kurma, garam dengan garam, jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dari tangan ke tangan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau mempertukarkannya sesukamu, sejauh  dilakukan dari tangan ke tangan (tunai)” (HR. Muslim)

Jadi kita tidak perlu membeli asuransi untuk menghadapi currency risk yang lebih dasyat dari gempa bumi, ayat dan hadits tersebut di atas adalah solusinya. Solusi itu ada di Dinar emas, Dirham perak, bahan pangan kita, bibit-bibit tanaman kita dan segala kebutuhan kita lainnya yang memang membawa nilai intrinsic-nya masing-masing – true value yang tidak akan terpengaruh oleh nilai currency.

Dan ini juga terbukti di jaman ini, ketika terjadi krisis financial hebat di Argentina tahun 2001 masyarakatnya mengembangkan kearifan lokal dengan menanam apa saja di halaman rumahnya. Hasilnya kemudian bisa di-barter dengan kebutuhan lain dengan masyarakat lainnya. Ketika tahun 2014 krisis yang sama berulang di negeri tersebut, masyarakat sudah pengalaman dalam mensikapinya.

Apakah kita siap bila krisis yang sama tahun 1997/1998 berulang di kita ? Dengan membaca tulisan inipun dan kemudian menindak lanjutinya dengan langkah konkrit di sini dan saat ini juga, maka insyaAllah kita juga siap !

Kamis, 09 Oktober 2014

Senin, 25 Maret 2013

Golongan Kanan Yang Memberi Makan

Golongan Kanan Yang Memberi Makan …

Di situs resminya Food and Agricultural Organization (FAO), ada dimuat sebuah dokumen yang berjudul “Feeding The World” – memberi makan bagi dunia. Yang menarik dalam dokumen tersebut terungkap bahwa, bila produksi makanan di seluruh dunia didistribusikan merata – maka setiap orang di dunia  akan mendapatkan jatah 5,359 kcal/ hari. Padahal kebutuhan calorie rata-rata menurut UK Health Department misalnya bagi wanita hanya 1,940 kcal/hari dan 2,550 kcal/hari untuk pria. Jadi produksi makanan di dunia sebenarnya cukup untuk memberi makan lebih dari dua kali penduduk dunia saat ini !

Tetapi mengapa kenyataannya sekarang ada sekitar 1 milyar penduduk dunia kelaparan ? Rupanya bukan pada masalah kekurangan produksi sebenarnya, tetapi lebih kepada masalah distribusi. Bahan makanan diproduksi secara berlebih di daerah yang mampu, kurang tersalurkan secara efektif ke daerah yang tidak mampu – karena perbedaan daya beli.

Bahan makanan yang diproduksi berlebih di Australia dan Amerika Utara misalnya, tidak bisa dibeli oleh penduduk di negara-negara yang produksinya sangat rendah di sebagian Afrika Utara dan Afrika Tengah.


Source : Food and Agricultural Organization (FAO)
Yang ironi adalah negeri kita  Indonesia, perhatikan pada peta di samping. Di sisi produksi calorie per capita per hari – Indonesia sejajar dengan Eropa, Australia dan Amerika Utara – yaitu wilayah-wilayah yang memproduksi calorie tertinggi di dunia. Kok kita mengimpor gandum 100%, kedelai, susu, daging dlsb ? Kok masih ada kelaparan di negeri ini ?  Apa yang terjadi ?

Kelebihan produksi calorie tersebut antara lain karena kita memproduksi calorie lebih dari minyak goreng misalnya (minyak sawit), dan juga dari protein hewani berupa sumber-sumber dari laut – yang utamanya untuk pasar ekspor.

Tidak ada masalah sebenarnya bila transaksi ekspor kelebihan produksi kita ini bisa berjalan efisien untuk membeli bahan makanan yang kita masih harus impor. Masalah baru timbul bila terjadi in-efisiensi atau kebocoran selama proses ekspor –impor ini.

Salah satu sumber in-efisiensi perdagangan ekspor impor itu di jaman modern ini terjadi selain oleh penyebab yang jelas seperti biaya pengangkutan dan sejenisnya, juga disebabkan oleh sesuatu yang tersembunyi (hidden) yaitu kebocoran daya beli uang yang digunakan untuk transaksi tersebut.

Kita menjual ikan misalnya ke Jepang, dibayar dengan Dollar. Dollar ini kemudian tersimpan di Cadangan Devisa kita untuk waktu tertentu. Di tengah kita menyimpan Dollar – pihak yang mengelola mata uang Dollar tersebut (yaitu the Fednya Amerika) mengkutak-katik secara kreatif uang Dollar-nya dengan istilah yang keren Quantitative Easing, tahap I,  II sampai ke III. Melalui proses inilah daya beli uang Dollar menurun drastis terhadap kebutuhan riil – meskipun terhadap sesama mata uang kertas nampak masih perkasa.

Yang timbul kemudian adalah barang-barang bahan pangan impor melonjak harganya. Kita mengira karena keterbatasan supply-lah yang membuat harga pangan dunia melonjak, padahal berdasarkan datanya FAO di awal tulisan ini – nampak jelas bahwa produksi pangan dunia sebenarnya lebih dari cukup – bahkan cukup untuk menghidupi lebih dari dua kali penduduk bumi !.

Jadi sebenarnya sangat ironis apa yang dilakukan oleh FAO, bahwa mereka punya data yang begitu jelas masalah supply produksi pangan ini – mereka juga punya data daya beli di masing-masing negara dengan akurat – tetapi lembaga yang kehadirannya dibutuhkan untuk memberi solusi bagi pangan dunia ini nampaknya belum efektif menjalankan misinya sehingga 1 Milyar orang di dunia kini kelaparan.

Kita memang tidak bisa berharap pada lembaga-lembaga internasional seperti FAO ini untuk mengatasi masalah-masalah pangan kita, kita mungkin juga tidak bisa berharap terlalu banyak pada departemen pertanian kita sendiri (ingat masalah kedelai, daging, bawang dan kini cabe !). Tinggal urusannya untuk memberi makan ini, nampaknya memang harus kita emban sendiri.

Yang diperlukan bagi masyarakat adalah bagaimana sedapat mungkin bisa memproduksi bahan-bahan makanan di wilayahnya masing-masing. Dengan cara ini pertama akan diminimalisir inefisiensi perdagangan karena masalah transportasi dan penurunan daya beli selama proses perdagangan, dan yang kedua adalah penciptaan lapangan kerja.

Ketika bahan pangan diproduksi secara cukup dan masyarakatnya memiliki pekerjaan – maka dari kombinasi inilah kecukupan pangan yang sesungguhnya itu bisa dicapai. Saat itulah bahan pangan tersedia (available) dan terjangkau (affordable) oleh seluruh penduduk yang membutuhkannya.

Mudahkah ini ?, tentu tidak mudah. Perjalanan kesana – perjalanan memberi makan di hari kelaparan itu adalah perjalanan mendaki lagi sukar. Hanya bila kita memiliki niat yang sangat kuat, niat untuk mencapai derajat golongan kanan – yang akan bisa membuat kita ikhlas menempuh perjalanan mendaki lagi sukar itu. Insyaallah.

Maka tidakkah sebaiknya ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar ?....Memberi makan di hari kelaparan…Mereka adalah golongan kanan” (QS 90 : 11-14-18)

Kamis, 08 Oktober 2009

Dunia Ramai-ramai Mencari Mata Uang Alternatif

Ramdhania El Hida - detikFinance
Artikel di ambil dari www.detik.com

Foto: Reuters Jakarta - Dolar AS memang tidak pernah dikukuhkan sebagai mata uang global. Namun secara de facto dolar AS kini masih merupakan mata uang global yang digunakan dalam setiap transaksi antar negara.

Sejalan dengan perkembangan ekonomi, negara-negara di dunia pun kini mulai mencari mata uang alternatif. Tak terkecuali Indonesia, yang sudah mulai menerapkan mata uang alternatif melalui swap bilateral dengan China dan Jepang.

"Penggunaan dolar AS belum akan ada alternatifnya langsung, tapi semua negara tahu penggunaan mata uang dolar AS ini merupakan mata uang global secara de facto. Memang orang melihat diperlukan keseimbangan mata uang global lainnya, tapi proses ini kan dilakukan secara bertahap," ujar Menkeu Sri Mulyani dikantornya, Jakarta, Rabu (7/10/2009).

"China dan Jepang, Arab yang mempunyai cukup banyak ekspor memang mulai mencari alternatif currency. Indonesia pun juga sebenarnya untuk kawasan Asia dengan adanya bilateral swap US$ 15 miliar antara kita dengan China, Jepang itu adalah alternatif transaksi yang tidak menggunakan dolar," imbuhnya.

Atas alasan tersebut, negara-negara Arab pun mencari alternatif mata uang yang tidak menggunakan dolar AS sebagai basisnya seperti dengan euro atau lainnya. Sementara untuk kawasan Asia, mata uang yang dilirik untuk dijadikan basis adalah renmimbi atau yuan.

Pernyataan Sri Mulyani tersebut disampaikan terkait laporan Harian Inggris 'The Independent ' yang mengutip sebuah sumber menyatakan bahwa, negara-negara Arab kini sedang melakukan pembicaraan serius dengan Rusia, China, Jepang dan Prancis untuk mengantikan dolar AS dengan kumpulan mata uang dan emas untuk perdagangan minyak dalam 9 tahun ke depan.

The Independent dalam headline -nya menuliskan sebuah laporan khusus dengan judul "Matinya dolar". Dalam laporan tersebut dituliskan, negara-negara Arab akan menggunakan 'basket of currencies ' yang berisi kombinasi mata uang yuan, euro, emas dan beberapa mata uang lain untuk melakukan transaksi minyak.

Kabar pertemuan itu sendiri akhirnya dibantah oleh sejumlah pihak seperti Qatar, Kuwait, Rusia dan Prancis. Kementerian ekonomi Prancis menyatakan, laporan The Independent itu murni spekulasi.

"Laporan itu murni spekulasi, tidak ada dasar dibalik rumor itu," tegasnya seperti dikutip dari AFP.

Dunia Ramai-ramai Mencari Mata Uang Alternatif

Artikel diambil dari www.detik.com

Ramdhania El Hida - detikFinance


Dolar AS memang tidak pernah dikukuhkan sebagai mata uang global. Namun secara de facto dolar AS kini masih merupakan mata uang global yang digunakan dalam setiap transaksi antar negara.

Sejalan dengan perkembangan ekonomi, negara-negara di dunia pun kini mulai mencari mata uang alternatif. Tak terkecuali Indonesia, yang sudah mulai menerapkan mata uang alternatif melalui swap bilateral dengan China dan Jepang.

"Penggunaan dolar AS belum akan ada alternatifnya langsung, tapi semua negara tahu penggunaan mata uang dolar AS ini merupakan mata uang global secara de facto. Memang orang melihat diperlukan keseimbangan mata uang global lainnya, tapi proses ini kan dilakukan secara bertahap," ujar Menkeu Sri Mulyani dikantornya, Jakarta, Rabu (7/10/2009).

"China dan Jepang, Arab yang mempunyai cukup banyak ekspor memang mulai mencari alternatif currency. Indonesia pun juga sebenarnya untuk kawasan Asia dengan adanya bilateral swap US$ 15 miliar antara kita dengan China, Jepang itu adalah alternatif transaksi yang tidak menggunakan dolar," imbuhnya.

Atas alasan tersebut, negara-negara Arab pun mencari alternatif mata uang yang tidak menggunakan dolar AS sebagai basisnya seperti dengan euro atau lainnya. Sementara untuk kawasan Asia, mata uang yang dilirik untuk dijadikan basis adalah renmimbi atau yuan.

Pernyataan Sri Mulyani tersebut disampaikan terkait laporan Harian Inggris 'The Independent ' yang mengutip sebuah sumber menyatakan bahwa, negara-negara Arab kini sedang melakukan pembicaraan serius dengan Rusia, China, Jepang dan Prancis untuk mengantikan dolar AS dengan kumpulan mata uang dan emas untuk perdagangan minyak dalam 9 tahun ke depan.

The Independent dalam headline -nya menuliskan sebuah laporan khusus dengan judul "Matinya dolar". Dalam laporan tersebut dituliskan, negara-negara Arab akan menggunakan 'basket of currencies ' yang berisi kombinasi mata uang yuan, euro, emas dan beberapa mata uang lain untuk melakukan transaksi minyak.

Kabar pertemuan itu sendiri akhirnya dibantah oleh sejumlah pihak seperti Qatar, Kuwait, Rusia dan Prancis. Kementerian ekonomi Prancis menyatakan, laporan The Independent itu murni spekulasi.

"Laporan itu murni spekulasi, tidak ada dasar dibalik rumor itu," tegasnya seperti dikutip dari AFP.

(nia/qom)

Selasa, 24 Maret 2009


Artikel di ambil dari http//www.prospekdinar.blogspot.com


Pada dasarnya sulit sekali untuk memalsukan koin emas. Banyak kendala yang dihadapi oleh pemalsu untuk merealisasikan niat jahat mereka. Beberapa kendala yang dapat disebutkan adalah antara lain kendala desain cetak, dimensi/ukuran koin emas, berat koin dan nilai jual saat dilepas ke pasar. Karena adanya kendala-kendala tersebut diatas maka pemalsu koin emas hanya mampu memalsukan koin emas yang sudah langka saja dimana baik desain, ukuran maupun beratnya sudah tidak lagi diketahui standarnya oleh masyarakat umum.Koin dinar emas produksi PT Antam Tbk adalah produk yang sudah terstandar dalam desain, ukuran dan beratnya. Namun bagi pemiik dinar emas yang ingin lebih dekat mengenal koin miliknya, berikut beberapa cara sederhana yang dapat digunakan :

1. Orang-orang jaman dahulu menggigit koin emas untuk mengecek keasliannya, karena seperti diketahui emas adalah logam mulia yang bersifat lunak. Cara ini sangat tidak dianjurkan karena selain tidak akurat dan akan merusak desain koin juga akan merusak kesehatan gigi apalagi bila sampai dikunyah :-).
2. Perhatikan desain koin dinar emas. Bila perlu gunakan kaca pembesar untuk melihat lebih detail. Pada bagian depan koin yaitu bagian yang ada tulisan dalam huruf latin “Logam Mulia Indonesia”, terdapat tulisan setengah lingkaran dalam bentuk tulisan “arab gundul” dan dibaca “Logam Mulia Indonesia”. Di samping menara sebelah kiri adalah tulisan “4,25 g” yaitu berat koin dinar emas sedangkan di samping menara sebelah kanan adalah tulisan “ Au 917” dimana Au (Aurum) adalah simbol kimia untuk logam mulia emas sedangkan 917 (22 karat) adalah kadar emas yang terdapat dalam koin.Simbol kimia untuk logam mulia perak adalah Ag (Argentum). Pada koin dinar emas PT Antam, perak menjadi campuran bahan dasar koin sebanyak 8,3 % sehingga koin dinar lebih berwarna cerah. Sebagai informasi tambahan, XAU adalah simbol harga untuk emas, XAG adalah simbol harga untuk perak sebagaimana IDR adalah simbol harga untuk Rupiah Indonesia dan USD adalah simbol harga untuk Dollar Amerika.Selanjutnya, disain bagian belakang koin terdapat tulisan dua kalimat syahadat dalam bentuk melingkari koin dengan corak kaligrafi “Diwani”. Diwani adalah salah satu dari 8 gaya penulisan kaligrafi populer dimana tujuh lainnya adalah Kufi, Tsuluts, Nashki, Riq'ah, Ijazah (Raihani), Diwani Jali dan Farisi.Bagi pembaca non-muslim, dua kalimat syahadat adalah dua kalimat yang harus diucapkan, dipahami dan dilaksanakan oleh setiap orang yang beragama Islam . Arti dari dua kalimat tersebut adalah “Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah.”
3. Seperti telah disebutkan diatas, koin dinar emas terbuat dari campuran antara emas dengan perak dengan komposisi kadar emas sebesar 91,7 % dan perak sebesar 8,3%.Emas memiliki tingkat kepadatan (density) yang tinggi yaitu untuk satu meter kubik emas akan memiliki berat 19.300 kg (19,3 ton) bandingkan dengan satu meter kubik besi hanya akan mempunyai berat 7.874 kg. Untuk satu meter kubik perak akan memiliki berat 10.490 kg.Dengan tingkat kepadatan emas dan perak yang demikian tinggi maka campuran antara emas sebanyak 91,7% dengan perak sebanyak 8,3% akan selalu menghasilkan berat 4,25 gr. Saya menggunakan timbangan digital dengan tingkat akurasi 0.01 gr untuk menimbang semua koin dinar emas yang saya beli maupun yang saya jual.

4. Koin dinar emas produksi PT Antam Tbk memiliki diameter lingkaran sebesar 23 mm. Dengan menggunakan jangka sorong (sigmat / vernier caliper) semua koin dinar emas yang saya beli memiliki ukuran diameter lingkaran 23 mm dan ketebalan 1 mm.

5. Sebuah koin berbentuk lingkaran dengan kombinasi ukuran diameter lingkaran 23 mm, tingkat ketebalan 1mm dan memiliki berat 4,25 gr hanya dapat dihasilkan jika logam yang menjadi bahan dasarnya adalah terdiri dari emas 91,7% dan perak 8,3%.Kombinasi tiga variabel tersebut merupakan kombinasi yang tidak dapat dipisahkan dalam membuat koin dinar emas. Bila terbuat dari jenis logam yang lain, besi misalnya, dengan bentuk lingkaran berdiameter 23 mm dan berat 4,25 gr akan memiliki ketebalan lebih dari 1 mm. Bila dibuat dalam bentuk lingkaran berdiameter 23 mm dan tingkat ketebalan 1 mm maka beratnya tidak akan mencapai 4,25 gr. Demikian juga bila dibuat dengan tingkat ketebalan 1 mm dan berat 4,25 gr maka diameternya pasti akan lebih dari 23 mm.

6. Ada logam lain yang memiliki tingkat kepadatan mendekati tingkat kepadatan emas yaitu platinum. Tingkat kepadatan platinum adalah untuk setiap 1 meter kubik platinum memiliki berat 21.450 kg ( emas = 19.300 kg ). Namun karena harga platinum jauh diatas harga emas, maka memalsukan koin dinar emas dengan bahan dasar platinum secara ekonomis tidak masuk akal. Mau dijual di pasar dengan harga berapa ?

7. Jadi, hanya dengan menggunakan kaca pembesar, jangka sorong dan timbangan digital dengan tingkat akurasi 0,01 gr, siapapun dapat dengan mudah menetukan keaslian desain dan kebenaran kadar emas dari dinar emas produksi PT Antam Tbk.

Perlu diketahui bahwa pengetesan sederhana yang saya lakukan terhadap koin dinar emas yang saya jual maupun beli adalah pengetesan lapis ketiga. Pengetesan lapis pertama dilakukan oleh PT Antam Tbk sendiri sedangkan lapis kedua dilakukan oleh Gerai Dinar dengan menggunakan alat canggih yang dapat dengan cepat mengetahui kebenaran kadar emas tidak hanya dalam bentuk koin dinar tetapi juga dalam bentuk emas batangan dan emas perhiasan.

Minggu, 22 Februari 2009

Kapan Waktu Yang Paling Baik Menukar Dinar…?


Written by Muhaimin Iqbal
Saturday, 21 February 2009 17:09

Akhir pekan ini harga Dinar dalam Rupiah mencapai rekor tertingginya; Sampai pada saat perdagangan emas dan mata uang dunia ditutup dini hari tadi – Dinar dalam Rupiah di GeraiDinar.Com menunjukkan angka Rp 1,636,240.
Pada saat harga mencapai puncak tertinggi semacam ini, siapapun yang telah menukar uangnya dengan Dinar sebelum ini – insyaAllah tidak ada yang merasa rugi. Kalau tidak merasa untung karena uangnya dalam Rupiah naik secara significant, setidaknya dia bisa mensyukuri bahwa asset-nya telah terselamatkan dari kejatuhan nilai.
Bagaimana dengan yang belum sempat menukarnya selama ini – sekarang keburu harga sudah selangit ?. Kapan bisa menukar ke Dinar lagi pada harga yang relatif rendah ?. Ini pertanyaan yang sangat banyak sampai ke saya; bahkan diantara mereka sudah siap menukar ketika harga dikisaran Rp 1.3 – Rp1.4 juta-an – namun masih menunggu turun – eh malah naik terus.
Mohon maaf bagi penanya yang tidak sempat saya jawab dengan jelas satu persatu, namun secara umum ini jawaban saya :
1) Apabila dinar difungsikan sebagi dua dari tiga fungsi uang yaitu sebagai store of value (proteksi nilai) dan unit of account (timbangan muamalah yang adil), maka tidak pernah salah menukar uang Anda ke Dinar kapanpun – lihat trend 10 tahun terakhir seperti grafik diatas – insyaallah Anda tidak rugi.
2) Bila Dinar difungsikan sebagai salah satu fungsi uang yaitu sebagai alat tukar (medium of exchange) seperti di M-Dinar misalnya, lagi-lagi tidak pernah salah menukar ke Dinar kapanpun – karena pindah dari sesuatu yang kurang adil ke yang adil pasti benar dilakukan kapanpun.
3) Diluar dua hal tersebut diatas, khususnya apabila Anda melihat Dinar sebagai alat investasi – maka bisa saja Anda seolah merugi dalam jangka pendek; karena harga Dinar berpeluang turun dalam jangka pendek ini.
Meskipun saya yakin mulai banyak orang yang menukar uangnya ke Dinar untuk alasan pertama, kemudian juga mulai tumbuh untuk alasan kedua sejak lahirnya M-dinar, tidak dipungkiri banyak juga yang menukarnya untuk alasan ketiga.
Untuk yang ketiga ini, saran lebih lanjut saya yang praktis adalah sebagai berikut :
1) Dinar kurang cocok untuk alasan investasi jangka pendek – misalnya kurang dari 6 bulan - karena fluktuasi harganya sulit diprediksi, peluang untung dan ruginya kurang lebih berimbang.
2) Dinar sangat baik untuk perencanaan keuangan/investasi jangka panjang yang penggunaannya beberapa tahun kedepan. Misalnya untuk rencana naik haji, biaya sekolah anak, dana pensiun, dana perbaikan rumah dst. Insyaallah saya akan buat tulisan tersebdiri untuk ini.
Untuk yang poin 2, agar Anda tidak merasa ‘rugi’ kalau Dinar yang Anda beli sementara turun harganya, maka ini saran lanjutan saya :
1) Tidak menukar uang Anda ke Dinar pada saat harga lagi naik tajam seperti yang terjadi sepanjang pekan ini; tunggu dalam dua – tiga minggu ketika harga relatif stabil. Bahkan untuk kasus fluktuasi yang sangat tajam saat ini – saran saya Anda amati sampai sebulan kedepan – sampai Anda comfortable betul dengan harganya.
2) Bila Anda untuk pertama kali membelinya dalam beberapa pekan kedepan, saran saya jangan membelinya sekaligus. Buat pembelian Anda bertahap, masing-masing pada saat Anda merasa sangat comfortable dengan harganya. Misalnya Anda mau memindahkan cadangan pergi haji sekeluarga 50 Dinar untuk 5 tahun yang akan datang, maka Anda dapat membelinya di rentang waktu akhir Maret sampai September ini.
3) Jangan tergoda untuk mengambil keuntungan sesaat (profit-taking), karena emas atau Dinar bukan saham. Ketika Anda kira harga sudah tinggi kemudian tabungan Dinar Anda Anda lepas, sangat bisa jadi Anda akan menyesal – karena bisa jadi harga terus melambung tinggi sehingga Anda tidak bisa memperoleh kembali jumlah Dinar yang Anda lepas tersebut dengan uang fiat Anda.
Terkait dengan poin ketiga , lantas kapan waktu terbaik untuk menukarkan Dinar Anda kembali ke Rupiah atau mata uang fiat lainnya ?.
1) Idealnya Dinar tidak ditukar kembali ke mata uang fiat, karena uang yang adil kok kembali ditukar ke uang yang tidak adil. Kalau sudah memungkinkan Dinar langsung digunakan ujtuk membayar barang dan jasa yang sudah bisa dibayar dengan Dinar.
2) Namun kita sadari bahwa kita belum hidup di masa kekhalifahan yang ideal yang alat tukarnya Dinar, sangat bisa jadi Anda memerlukan uang fiat untuk berbagai keperluan. Oleh karenanya, menukar Dinar ke uang fiat yang terbaik adalah pada saat keperluan tersebut timbul. Misalnya Dinar Anda direncanakan untuk pergi haji, maka saat terbaik Anda menukar adalah pada saat Anda akan bayar ONH. Jadi bukan harga penentunya – tetapi kapan kebutuhan uang fiat tersebut timbul.
Sebagai hamba yang lemah dan penuh kekurangan, bisa saja saran saya tersebut keliru – saya memohon Ampun kepadaNya atas kekurangan ini. Hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang Maha Tahu …semoga kita selalu dalam bimbinganNya. Amin.