Senin, 08 Desember 2008

Anti Rokok

Tuhan Sembilan Senti

Oleh Taufiq Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempatsiksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawaimerokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPRmerokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,hansip-bintara-perwira nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buahkopi merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrikpetasan pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kuburorang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagiperokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang takmerokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepalasekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliahdosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaankecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiriyang duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orangmerokok, di kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapalpenyeberangan antar pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnyamerokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,
Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok,tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,
Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, direstoran di toko buku orang merokok, di kafe di diskotik parapengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan abab rokok,bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidurketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbakrokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul salingmenularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya.Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokokdi kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotinlebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur didunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakauitu, bisa ketularan kena,
Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obatmerokok, di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggudokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli orangmerokok, menyandang raket badminton orang merokok, pemain bola PSSIsembunyi-sembunyi merokok, panitia pertandingan balap mobil,pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemis-ngemis menciumkaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok, didalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok, diruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-oranggoblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang takmerokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli hisap. Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak,tapi ahli hisap rokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, ke mana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegangdengan tangan kiri. Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu’uttadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. Kyai, ini ruangan ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi alhawwa’i. Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluuanfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzirdiharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnyarokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimulkhabaaith. Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zamanRasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum adarokok.

Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyakyang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,yaitu ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yangmulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

Tidak ada komentar: